Friday, February 10, 2012

Kembali

wah..wah..wah... sampe keluapaan email ma passw pblg aku yang http://yuliantimumed.blogspot.com tapi setelah aku baca-baca ternyata aku punya kenangan banyak disana. kenangan waktu sekolah n waktu masih pacaran ma uyunk (mas Arieph) hehehgs...
salah satunya cerpen yang berikut nie boleh di baca atau di share.

"Segalanya telah kuberikan tapi kau tak pernah ada pengertian, mungkin kita harus jalani … cinta memang cukup sampai disini…”

Sebelum reff kedua, tombol standby pada music player dimatikan Arief. Telinganya terasa sudah capek mendengarkan audio apa saja, dia pengen tidur. Malam begitu sepi, dingin tak enak. Menengok HP disaku sejenak, tampak di layar jam menunjuk angka dua dini hari. 8 Oktober 2008, terfikir olehnya besok jam setengah enam kereta akan membawa kekasihnya pergi dan dia tidak mau melewatkan event mengantarnya. Sedetik kemudian, dia seting alarm pukul lima pagi, dengan volume paling keras berharap bisa menariknya kembali dari dunia mimpi. Ia mulai memejamkan mata dan berkata “ I love You, yank…”
Tapi bulan Oktober ini, adalah awal dari bulan yang sangat menyiksa Arief. Dia mulai memejamkan mata dan tepat pukul lima pagi, 8 Oktober 2008. Alarm berbunyi sangat keras mungkin bisa berimbas layaknya nyamuk lapar yang tidak bisa keluar dari telinga. Tapi itu belum cukup bisa membuat Arief kembali dari dunia mimpi. Dua menit berlalu, alarm berhenti seolah bosan setelah berteriak dan kehabiasan tenaga. Namun beberapa detik sebelum setengah enam pagi, ada sesuatu yang membuat Arief terbangun, hawa dingin di pagi hari yang di bawa sang 8 Oktober dan rasa ngantuk karena efek oksigen dalam otak sejenak terasa pergi saat Arief tau apa yang dia ingat, dia harus lakukan pada pagi itu. Sepuluh menit berlalu, Arief beranjak dari rumah dengan sedikit doa mengiringi langkahnya memohon agar kereta yang akan membawa kekasihnya pergi itu datang terlambat.
Ada pesan singkat yang dibaca Arief dan dia tau itu dari kekasihnya. Telah tiba di gerbang pemberhentian kereta. Sedikit keberuntungan karena kereta belum tiba. Arief berjalan agak pelan, otaknya memerintah matanya untuk mencari dimana Yuli berada. Dia masuk ke dalam peron mengitari tiang penyangga, kemudian dengan langkah berbunyi pelan, dia masuk ke ruang tunggu yang tersambung dengan loket tempat pelayanan pembelian karcis. Dia tak tau dimana Yuli berada. Sesaat terselip asa sambil berjalan menuju pintu pagar besi stasiun, di ujung pintu dia mendengar sapa yang tak asing namun terasa jauh ditelinganya. Ternyata itu suara teman lamanya. Sedikit obrolan dengan pikiran yang tak bisa fokus kepembicaraan. Arief tak begitu semangat, walau dihadapannya kini sosok teman yang sudah hampir satu tahun tak bertemu bercakap dengannya.
Namun asa itu pudar, ketika dia membalikkan badan dia melihat sosok yang dicarinya. Dengan mengirim senyumannya, Arief mendekati kekasihnya setelah tinggalkan pembicaraan bersama teman lamanya. Sedikit pembicaraan dengan tawa dan canda terselip didalamnya. Dalam pembicaraan itu, Yuli begitu pintar, bisa menyembunyikan masalah yang dihadapinya dari Arief. Masalah yang membuat akhir tahun 2008 begitu suram berimbas pada hubungan mereka.
Sosok Arief kini tak begitu spesial dimatanya. Sangat bertolak belakang dengan apa yang dirasakan Arief. Dia begitu memuja kekasihnya, Yuli. Arief tak sanggup lagi berpaling darinya, baginya Yuli begitu indah, begitu berharga. Beberapa menit sebelum waktu menunjukkan pukul tepat enam pagi, bunyi itu membuat hati Arief ada yang kurang. Dia masih ingin berdua dengan kekasihnya. Rasa rindu tak kunjung reda walaupun terus menatap mata indah Yuli.
Bunyi yang mengundang kereta datang, untuk istirahat sejenak menjemput para penumpang. Arief tak peduli dengan kata – kata Yuli tentangnya yang akan lama tak kembali pulang. Arief menganggapnya hanya sebagai canda pembangkit rasa rindu. Masih dengan kepintarannya menyembuyikan masalah dari Arief. Yuli memberi sedikit kecupan manis buat Arief sebelum pergi meniggalkannya. Rasa yang penat, menyelimuti hati Arief saat kereta berangkat, hanya selang beberapa menit berhenti. Arief terus menatap kereta itu sampai tak bisa terjangkau matanya. Dia merenung sendiri untuk beberapa waktu kedepan tanpa kekasihnya.



Arief pulang dengan rasa penat itu masih terus bisa dia rasakan, membuat banyak makanan sulit masuk ke rongga mulutnya. Sejenak menutup mata, sedikit melupakan kepenatan itu. Setelah istirahat yang hanya di isi dengan memikirkannya, Arief membaca pesan singkat yang dikirim beberapa saat sebelumnya tentang Yuli yang telah menginjak di tempat tujuannya yaitu Semarang, kota yang membawa kekasihnya pergi, kota yang sesaat menambah kepenatan hati Arief.
Malam harinya Yuli mengirim pesan singkat bertuliskan
“ Rief, aku sudah tak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku minta cukup sampai disini, maafin aku, aku nggak bisa kembali sama kamu lagi.“

Arief mengirim pesan singkat kepada teman – temannya untuk menanyakan apakah ini benar – benar terjadi, dan mereka bilang

“ Masak??? Nggak mungkin!!! Itu Cuma bercanda. Nggak mungkin seorang Arief dibuang.”

Arief berusaha mempercayai mereka, dia selalu berfikir positif tentang kata – kata negatif dari Yuli. Malam itu Arief begitu kacau melayang – layang, bumi sudah kosong pikirnya. Dia satu – satunya teman hidup di bumi yang kosong itu menolak untuk bersama. Berkali – kali permohonan yang tulus, syarat akan cinta dia tolak. Kini Arief menderita syndromeZouleyloveriouss. Tapi Arief tetap tidak mau melepaskan Yuli.
Setelah kejadian itu, Yuli tidak pernah mengabari Arief, semua pesan dan telepon darinya tak pernah Yuli tanggapi. Pada akhir bulan Oktober ini Arief ada acara bersama teman – teman bandnya untuk mengikuti audisi. Dua hari sebelum itu, Arief tidak bisa konsentrasi latihan. Teman – temannya merasa muak pada Arief. Dan untuk pertama kalinya dia ingin mencoba untuk melupakan Yuli. Tapi, tetap saja nggak bisa. Waktu Arief tampil di panggung, dia merasa ada yang aneh dia merasa kalau Yuli tidak mugkin bercanda, ada sesuatu dibalik ini semua. Tapi sudahlah Arief tak ingin mengecewakan teman – temannya sebab ini juga akhir perpisahan mereka. Dan Arief berkata

“ Maaf teman aku nggak bisa maksimal, aku nggak bisa kasih yang terindah di akhir perpisahan kita ini.”


Tanggal dua belas sejak menit pertama di hari ke dua belas bulan Desember. Yuli memberikan warna yang sangat hijau dimata Arief, begitu hijau menyejukkan hati. Dia berikan kesejukkan yang belum terasa. Dia tebar janji untuk kembali pada Arief. Arief berfikir itu hanya akal – akalan Yuli saja biar dia tidak terlarut dalam sedih. Dengan kalimat belakang “ Tapi aku nggak tau kapan..”
Arief berfikir kembali, “ mungkin di kehidupan selanjutnya.” Dan itu tak mungkin , pikirnya.

“mungkin di kehidupan selanjutnya, setelah kehidupan ini berakhir jika Tuhan berkenan menyatukan kita.” lanjutnya dalam hati.

“ Sudahlah lupakan dia, kamu konsen aja bangun masa depanmu.” berkali – kali kalimat itu dia sematkan dalam otak Arief. Entah sudah berapa kalimat hingga membentuk paragraf atau mungkin sebuah buku dengan kalimat yang sama. Tapi tetap saja dibalik semua kalimat itu ada sebuah nama yang begitu menyayat hatinya yaitu Yuli.

“Sudahlah aku cukup senang akan hal ini, berarti ini peluang untukku kembali bersamamu.” kata Arief.

Kini dia mulai percaya lagi dengan Yuli, dia percaya bahwa Yuli benar – benar masih sayang padanya dan pasti kembali. Saatnya menyusun kembali puing – puing kehancuran yang tercecer dan menjadikan keutuhan yang dapat memperkuat kembali hubungan mereka tanpa adanya kata perpisahan, yang ada hanya rasa kasih sayang dan kebersamaan.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kembali

0 Komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentar yang di tinggalkan :-)

Tentang Penulis :
Yulianti (ulie) lahir di kota kecil di Kabupaten Blora Jawa Tengah pada 24 Maret 1993. Hobby ikutan lomba dan sayang sama keluarga.